KAMIS, 19 MARET 2009 | 10:55 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Tersangka kasus dugaan suap dana stimulus pembangunan pelabuhan dan bandara di wilayah Indonesia timur Abdul Hadi Djamal siap menghadapi somasi yang diajukan anggota Panitia Anggaran Rama Pratama dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ia menyuruh Rama untuk bertobat terkait penyataan Abdul sebelumnya yang menyebut Rama diduga terlibat dalam kasusnya.
"Bilang sama Pak Rama suruh istigfar, tobat pada Allah," tuturnya saat turun dari mobil tahanan KPK, Jakarta, hari ini (19/3).
Dikatakan Abdul, pertemuan informal di Hotel Ritz Carlton itu jelas dihadiri oleh Rama Pratama.
"Kata siapa ia (Rama) tak hadir, kan ada rekaman videonya, ada rekaman video juga di tempat parkir," ujarnya.
Ia juga menandaskan pertemuan yang dihadiri oleh elemen Depkeu, anggota Panitia Anggaran DPR RI dan Bank Indonesia itu dihadiri Kepala Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu. "Ada sahabat saya Anggito Abimanyu hadir juga, tanya saja sama dia," ujar politisi PAN yang juga anggota Panitia Anggaran ini.
Abdul Hadi datang bersama tersangka Hontjo Kurniawan pukul 10.12 untuk menjalani pemeriksaan.
Seperti diberitakan sebelumnya, anggota DPR Komisi Perhubungan Abdul Hadi diduga telah menerima sejumlah uang dari Hontjo Kurniawan, Komisaris PT Kurnia Jaya Wirabakti. Uang tersebut diberikan melalui pegawai Departemen Perhubungan Darmawati yang bertindak selaku penghubung keduanya. Menurut pengacara Hontjo, Erman Umar, uang tersebut diberikan dalam tiga tahap sebesar Rp 3 miliar.
Saat tertangkap tangan di bilangan Casablanca, Karet, terdapat uang sejumlah 90.000 dollar AS dan Rp 54 juta di mobil Abdul Hadi dan Darmawati. Uang ini diduga diberikan oleh Hontjo sebagai rekanan lama Dephub agar dapat diikutsertakan dalam tender proyek dana stimulus (percepatan) pembangunan dermaga dan bandara di wilayah Indonesia timur. Proyek senilai Rp 100 miliar tersebut baru akan ditenderkan, tetapi sudah disahkan oleh DPR dan dimasukkan tahun anggaran 2009.
MYS
nasional.kompas.com
Wednesday, March 25, 2009
Abdul Hadi Minta Rama Pratama Istigfar
Abdul Hadi Minta Rama Pratama Istigfar
KAMIS, 19 MARET 2009 | 10:55 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Tersangka kasus dugaan suap dana stimulus pembangunan pelabuhan dan bandara di wilayah Indonesia timur Abdul Hadi Djamal siap menghadapi somasi yang diajukan anggota Panitia Anggaran Rama Pratama dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ia menyuruh Rama untuk bertobat terkait penyataan Abdul sebelumnya yang menyebut Rama diduga terlibat dalam kasusnya.
"Bilang sama Pak Rama suruh istigfar, tobat pada Allah," tuturnya saat turun dari mobil tahanan KPK, Jakarta, hari ini (19/3).
Dikatakan Abdul, pertemuan informal di Hotel Ritz Carlton itu jelas dihadiri oleh Rama Pratama.
"Kata siapa ia (Rama) tak hadir, kan ada rekaman videonya, ada rekaman video juga di tempat parkir," ujarnya.
Ia juga menandaskan pertemuan yang dihadiri oleh elemen Depkeu, anggota Panitia Anggaran DPR RI dan Bank Indonesia itu dihadiri Kepala Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu. "Ada sahabat saya Anggito Abimanyu hadir juga, tanya saja sama dia," ujar politisi PAN yang juga anggota Panitia Anggaran ini.
Abdul Hadi datang bersama tersangka Hontjo Kurniawan pukul 10.12 untuk menjalani pemeriksaan.
Seperti diberitakan sebelumnya, anggota DPR Komisi Perhubungan Abdul Hadi diduga telah menerima sejumlah uang dari Hontjo Kurniawan, Komisaris PT Kurnia Jaya Wirabakti. Uang tersebut diberikan melalui pegawai Departemen Perhubungan Darmawati yang bertindak selaku penghubung keduanya. Menurut pengacara Hontjo, Erman Umar, uang tersebut diberikan dalam tiga tahap sebesar Rp 3 miliar.
Saat tertangkap tangan di bilangan Casablanca, Karet, terdapat uang sejumlah 90.000 dollar AS dan Rp 54 juta di mobil Abdul Hadi dan Darmawati. Uang ini diduga diberikan oleh Hontjo sebagai rekanan lama Dephub agar dapat diikutsertakan dalam tender proyek dana stimulus (percepatan) pembangunan dermaga dan bandara di wilayah Indonesia timur. Proyek senilai Rp 100 miliar tersebut baru akan ditenderkan, tetapi sudah disahkan oleh DPR dan dimasukkan tahun anggaran 2009.
MYS
nasional.kompas.com
Anggota DPR Ditangkap, Abdul Hadi Sebut Keterlibatan Rama Pratama
Selasa, 17/03/2009 21:53 WIB
Anggota DPR Ditangkap
Abdul Hadi Sebut Keterlibatan Rama Pratama
Rachmadin Ismail - detikNews
Jakarta - Satu lagi anggota dewan yang diduga terlibat dalam kasus dugaan korupsi pembangunan dermaga dan pelabuhan di kawasan Indonesia timur. Tersangka Abdul Hadi Djamal menyebut anggota panitia anggaran DPR Rama Pratama terlibat dalam pertemuan informal di Hotel Ritz Carlton, Jakarta.
"Semua fraksi terlibat, dan dihadiri oleh Rama Pratama dan pimpinan juga ada," ujar Abdul Hadi usai diperiksa di Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, Selasa (17/3/2009).
Rama Pratama yang merupakan politisi PKS itu, kata Hadi, ikut dalam proses penentuan kenaikan dana stimulus sebesar Rp 2 triliun.
"Yang Rp 2 triliun itu kan untuk pimpinan dan anggota mendapatkan aspirasi dari itu," katanya.
Selain itu, Djamal juga mengatakan, tidak semua politisi PKS itu bersih. Buktinya, kata dia, dalam pertemuan itu Rama ikut mempengaruhi putusan dan memberikan persetujuan.
Sementara itu, pengacara Abdul Hadi, Firman Wijaya mengatakan, pertemuan itu adalah awal mula terjadinya kasus ini. Rekanan yang selama ini ingin terlibat dalam proyek dana stimulus berusaha mendekati para anggota panitia anggaran.
"Itu kemudian menjadi sesuatu yang berujung pada klien saya," pungkasnya. (mad/ndr)
www.detiknews.com
Friday, March 6, 2009
Ketua PKS Cantigi Indramayu Dituding Perkosa Pelajar SMP
Reno Nugraha - detikPemilu
ndramayu - Pelecehan seksual yang dilakukan oknum pengurus partai politik terjadi di Indramayu, Jawa Barat. Seorang Ketua Dewan Pengurus Cabang Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kecamatan Cantigi Indramayu, dilaporkan ke polisi dengan dugaan telah memperkosa pelajar SMP.
Korban YN, warga Desa Lamaran Tarung, Kecamatan Cantigi, sangat shock saat melaporkan kejadian yang menimpanya ke Mapolsek setempat. Dia mengaku telah diperkosa oleh Royana yang menjabat sebagai Ketua DPC PKS dan ketiga rekannya di rumah tersangka.
"Sebelum diperkosa, saya sempat dicekoki minuman keras hingga tak sadarkan diri. Yang pertama memperkosa si Roy (Royana) kemudian teman-temannya," ujar YN di rumahnya, Kamis (5/3/2009).
Keberadaan Royana hingga kini masih belum diketahui. Diduga, tersangka kabur saat mengetahui korban melaporkan kasus tersebut ke polisi.
Menanggapi hal tersebut, Dewan Pimpinan Daerah PKS Kabupaten Indramayu mengatakan akan menyelidiki kebenaran hal itu. Mereka tidak segan-segan memecat tersangka jika memang terbukti melakukan kesalahan tersebut.
"Kita masih melakukan investigasi, namun kami menyerahkan kasus ini sepenuhnya ke pihak kepolisian," papar Ibrahim, Humas DPD PKS Kabupaten Indramayu.
Sejauh ini, pihak DPD PKS mencurigai jika kejadian ini sengaja dibuat oleh lawan politiknya untuk menjatuhkan nama baik PKS.
( djo / iy )
Ketua DPC PKS Cantigi Menawarkan Rp 200 Juta Untuk "Keperawanan"
Kamis, 05 Maret 2009, 17:23 WIB Berita8.com
Kejadian yang menimpa gadis anak baru gede (ABG) di Indramayu, Jawa Barat korban pemerkosaan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kecamatan Cantigi Indramayu inisial Ro (23) kini mengalami depresi berat.
Korban dan ibunya, Karni (40) tahun, ketika ditemui para wartawan di rumahnya, terlihat stress dan shock berat. Bahkan ketika ditanya, Bunga tidak memberikan pernyataan apa pun. Akibat kejadian yang dialami, Bunga terlihat masih trauma dan merasa takut apalagi dihadapkan ke kamera.
Kronologis pemerkosaan tersebut ketika gadis berusia 15 tahun warga Blok Pintu Air Desa Panyingkiran Kidul RT 15/03, Kecamatan Cantigi itu tiba-tiba didatangi Royana, Su (20), Da (19), Ar (21), bersama di rumahnya.
Pertemuan mereka terjadi pada pukul 19.00 WIB. Setelah mereka bertemu, Royana yang sudah merayu Bunga kemudian mengajaknya keluar jalan-jalan menggunakan sepeda motor dengan konvoi bersama 3 teman Ro.
Tanpa curiga Bunga kesemsem terhadap Ro yang kala itu memang merayu gadis ABG itu untuk jalan-jalan.
Saat waktu mulai menunjukkan pukul 21.00 WIB, Royana mengajak Bunga ke rumah kawannya, Aris di Desa Lamarantarung Kecamatan Cantigi.
“Beberapa menit kemudian sesampainya di rumah Aris, saya diberi minuman yang saya tidak tahu namanya dan saya meminumnya sebanyak dua gelas karena saya merasa haus setelah lelah berjalan-jalan, setelah itu beberapa jam kemudian saya merasa pusing dan tak sadarkan diri,” kata Bunga, Kamis (5/3) kepada wartawan.
Lanjut kata Bunga ketika tersadar saya merasa lemas dan tidak ada selembar bajupun, saya kaget dan langsung kabur menggunakan pakaian dalam saja. Meskipun saya merasakan sakit dipikiran saya yang tertuju hanya rumah.
Saat Bunga kabur dari rumah Aris setelah di perkosa oleh Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kecamatan Cantigi Indramayu beserta kawan-kawanya, Bunga bertemu dengan teman sekolahnya.
Topleh salah satu teman korban, yang kaget langsung saja menolong Bunga dan mengajak menginap di rumahnya, keesokan hari, Bunga yang takut pulang ke rumah lantaran takut di marahi oleh kedua orang tuanya, menginap di rumah Nani (14) yang juga merupakan teman sekolahnya.
Terus pada saat itu orangtua Bunga khawatir karena anaknya selama dua hari tidak ada kabar, dan langsung mencari anaknya dengan cara bertanya kepada teman-teman sekolah Bunga. Setelah orang tua korban mengetahui dari temannya Bunga tentang kondisi anaknya yang di perkosa oleh Ro Cs.
Pihak keluarga korban langsung melapor kejadian tersebut kepada pihak berwajib untuk menuntut para pelaku dihukum seberat-beratnya. Mengetahui tuntutan dari pihak korban tersebut, oknum dari pelaku menawarkan sejumlah uang Rp 200 juta sebagai perdamaian namun orang tua korban menolaknya mentah-mentah.
"Harga diri tidak bisa dijual walau dihargai Rp 200 juta. Saya tidak bisa terima, putri saya diperlakukan seperti itu. Para pelaku harus dituntut," ujar Karni, orang tua Bunga.
DPD PKS Kabupaten Indramayu ketika dikonfirmasi melalui bagian Humas, Ibrahim S.Sos, kepada wartawan mengatakan, saat ini pihaknya masih memantau perkembangan terkait kasus yang diduga menimpa kadernya.
Ibrahim membenarkan bahwa Ro merupakan Ketua DPC PKS Kec. Cantigi. "Tapi itu adalah kader baru, yang baru dikeluarkan surat keputusan (SK) nya baru empat hari lalu," ujarnya
Menurut Bagian Humas PKS, pihaknya tidak mengethaui latar belakang Ro yang sebenarnya. Karena SK pengangkatan Ro sebagai ketua DPC itu dibuat untuk menggantikan kepengurusan yang lama, yang sebelumnya mengundurkan diri.
Dikatakannya, soal penawaran perdamaian oleh PKS sebesar Rp 200 juta, PKS membantah telah memberikan penawaran itu kepada pihak korban.
"Hormati dulu azas praduga tak bersalah. Kalau dia terbukti bersalah, tentunya partai akan memecat secara langsung. Soal uang Rp 200 juta, PKS tidak pernah melakukan upaya perdamaian semacam itu," kata Ibrahim.
Sementara itu, Kapolres Indramayu AKBP Drs. H., Mashudi membenarkan adanya laporan kasus perkosaan yang melibatkan ketua DPR PKS Cantigi tersebut. Menurut dia, saat ini pihaknya masih mendalami dan mengecek kebenaran kasus tersebut. (Fz/YP)
